Anak - Anak Di Indoneisa Mudah Mengalami Obesitas, Bagaimana Cara Mengatasinya?
Medinesia.com -- Pada zaman modern seperti saat ini, warga Indonesia masih saja mengalami persoalan gizi, terutama obesitas pada anak - anak. Hal ini telah diungkapkan oleh dr Reni Wigati, SpA, seorang dokter spesialis anak
di RS Dharmais dalam acara diskusi “Kenali Bahaya Gula pada Tumbuh
Kembang Anak” bersama Forum Ngobras di Sleepyhead Coffee, Jakarta. Indonesia kini berada di posisi ke-10 di dunia untuk
masalah obesitas.
Berdasarkan survei, tingkat gizi lebih pada anak secara global di
tahun ’90-an adalah 4,2 persen. Angka ini kemudian meningkat menjadi 6,7
persen pada tahun 2010 dan prediksinya akan lebih dari sembilan persen
pada tahun 2020.
“Sedihnya, pada tahun 2013, penelitian di Indonesia menemukan bahwa angka overweight sudah
10,8 persen dan angka obesitas di atas delapan persen. Jadi kita sudah
duluan di atas prediksi kegemukan dunia pada tahun 2020,” kata dr Reni. Padahal, kegemukan berpotensi menyebabkan penyakit degeneratif
seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, dan diabetes tipe dua.
Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar dari kasus obesitas
murni disebabkan oleh nutrisional. “Jadi, asupannya lebih besar dari
kalori yang dikeluarkan,” kata dr Reni. Sementara itu, kelainan hormon
dan genetik hanya menyebabkan kurang dari 10 persen masalah gizi lebih
di Indonesia.
Menjaga berat badan anak
Untuk itu, dr Reni pun menghimbau orangtua untuk melakukan pencegahan
sebelum terlambat. Caranya dengan mengenalkan pola makan yang benar
sejak usia enam bulan atau sejak tahap makanan pendamping air susu ibu
(MPASI).
Menurut dia, pola makan yang baik terdiri dari tiga kali makan besar
dan dua kali camilan berupa buah segar yang tidak dijus. Kalori yang
dikonsumsi anak pun harus dikonsultasikan dengan pakar nutrisi. Lalu,
selama makan dan di luar jadwal, anak hanya boleh minum air putih.
Untuk jamnya, dr Reni berpendapat bahwa pola makan anak bisa
mengikuti pola makan keluarga. “Yang paling baik adalah anak makan di
meja makan bersama keluarganya, tanpa dibarengi aktivitas lain, terutama
nonton televisi,” katanya.
Kemudian, langkah berikutnya adalah menciptakan lingkungan yang
netral dan tidak memaksa. Dia menekankan, jenis dan jumlah makanan hanya
anak yang menentukan. Bila anak sudah merasa kenyang, ya kenyang. Harus
dihargai.
Dokter Reni juga berkata bahwa ASI juga harus diberikan hingga anak
berusia dua tahun. “Hal ini bisa membantu mencegah obesitas,” ucapnya. Lalu, bagaimana bila gizi anak sudah terlanjur lebih? Langkah pertama yang harus dilakukan orangtua adalah menyesuaikan
kalori dengan kebutuhan. Penentuan kalori bisa dibantu oleh petugas
kesehatan.
Namun, pengurangan kalorinya harus bertahap. Bila terlalu cepat, dr
Reni berkata efeknya bisa bermacam-macam, termasuk batu ginjal dan batu
empedu. “Kita minta dia kurangi sekitar 200 kalori ya, dikurangi sedikit-sedikit. Target pengurangan berat badannya juga hanya 0,5
kilogram saja per minggu,” ujarnya. Pola diet anak juga harus seimbang, yakni 50-60 persen karbohidrat,
30 persen lemak, dan protein harus mencapai 15-20 persen. Usahakan juga
agar makanan yang dikonsumsi anak tinggi serat. Perhitungan kasar untuk
kebutuhan serat anak setiap hari adalah usia anak ditambah lima gram.
Selain menjaga pola makan, aktivitas juga diperlukan dalam menjaga
berat badan anak. Dokter Reni meekomendasikan olahraga intensitas sedang
seperti berjalan cepat selama 60 menit sehari. Sementara itu, olahraga
yang agak berat seperti berlari bisa dilakukan tiga kali seminggu. “Kemudian, ajak anak untuk terlibat dalam permainan olahraga di
sekolah maupun di rumah. Namanya anak-anak, kalau diajak main pasti
senang. Jadi, pilihkan aktivitas fisik bagi anak,” katanya.
Orangtua juga bisa memodifikasi aktivitas harian, misalnya menurunkan
anak agak jauh dari sekolah agar berjalan atau mengajak anak memilih
tangga daripada elevator. Namun, modifikasi ini harus dilakukan
sekeluarga agar anak termotivasi untuk mengikuti. Lalu, bagian yang tidak kalah penting lainnya adalah modifikasi
perilaku agar anak bisa menjaga dirinya sendiri baik di dalam maupun di
luar rumah “Ketika anak sudah besar, dia harus mampu mengawasi dirinya sendiri,
mulai dari perubahan berat badannya, aktivitas fisiknya, hingga
asupannya. Bila anak dilibatkan, biasanya semangatnya dalam menjaga
berat badan akan lebih baik,” ucap dr Reni.
Akan tetapi, orangtua juga harus bisa mengontrol stimulus atau
rangsangan di sekitar anak. Jangan sampai orangtua melarang anak makan
kerupuk, tetapi menyediakannya di meja sebagai camilan diri sendiri.
Oleh karena itu, satu keluarga harus sepakat untuk mengikuti pola makan
yang sehat bersama-sama. Terakhir, dr Reni berpesan agar tidak melakukan perundungan (bullying) kepada anak. “Bagaimana pun keadaan gizi anak, orangtua mau pun teman tidak boleh melakukan bully. Sebab, hal ini bisa berbekas secara psikologis dan membuat anak lari ke makanan,” katanya.

0 Response to "Anak - Anak Di Indoneisa Mudah Mengalami Obesitas, Bagaimana Cara Mengatasinya?"
Post a Comment